Site icon Gerantara

Mungkinkah Hantavirus Memicu Pandemi Berikutnya?

Gerantara – Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius pada Mei 2026 telah mengguncang dunia dan memicu pertanyaan yang tak terelakkan, apakah virus mematikan ini akan menjadi pemicu pandemi global berikutnya. Dengan tiga kematian yang dikonfirmasi dan setidaknya sebelas kasus yang dilaporkan di kapal yang membawa 180 orang dari 23 negara, ketakutan publik dapat dimengerti.

Namun setelah mencermati karakteristik virus ini, data epidemiologis, dan respons global yang telah berjalan, jawabannya tegas, kemungkinan hantavirus memicu pandemi dalam waktu dekat sangatlah rendah, namun wabah ini tetap menjadi ujian kritis bagi sistem kesehatan global.

Perbedaan paling fundamental antara hantavirus dan SARS-CoV-2 terletak pada kemampuan penularannya. Virus Andes atau Andes virus atau ANDV, strain Dunia Baru yang menyebabkan wabah ini, memang memiliki kemampuan unik untuk menular antar manusia, sebuah anomali di antara keluarga hantavirus yang umumnya hanya berpindah dari hewan pengerat ke manusia. Namun penularan ini sangat terbatas.

Data dari wabah di Argentina pada tahun 2018 hingga 2019 yang melibatkan 34 kasus menunjukkan bahwa angka reproduksi dasar atau R₀ virus Andes hanya sekitar 1,5. Ini berarti setiap satu orang yang terinfeksi rata rata menularkan ke sedikit lebih dari satu orang lainnya. Sebagai perbandingan, R₀ SARS-CoV-2 berkisar antara 2 hingga 3, sementara varian Omicron bahkan jauh lebih tinggi. Setelah diterapkan langkah langkah pengendalian seperti isolasi dan karantina, R₀ virus Andes turun drastis di bawah angka 1 menjadi 0,96, sebuah level di mana penyakit tidak mampu mempertahankan pertumbuhan eksponensial dan akhirnya akan padam dengan sendirinya. Seorang pejabat WHO bahkan menegaskan bahwa bahkan di antara pasangan yang tinggal serumah, tidak selalu keduanya terinfeksi, sebuah fakta yang sangat kontras dengan COVID-19 yang menyebar bagaikan api di padang rumput kering.

Wabah yang saat ini terjadi di kapal pesiar disebabkan oleh hantavirus “Dunia Baru” dari Pegunungan Andes. FOTO: REUTERS

Faktor kunci lainnya adalah mekanisme penularan yang sangat berbeda. Hantavirus tidak menular melalui percikan halus atau droplet saat seseorang berbicara atau bernapas seperti COVID-19. Penularan hanya terjadi melalui kontak langsung dan berkepanjangan dengan cairan tubuh penderita yang sudah menunjukkan gejala parah. Fakta yang sangat melegakan adalah bahwa tidak ada bukti penularan dari individu tanpa gejala atau asimptomatik. WHO melaporkan bahwa seorang pramugari yang merawat seorang penumpang yang kemudian meninggal dalam kondisi yang sangat buruk dinyatakan negatif dalam uji laboratorium. Demikian pula, istri dari seorang pasien yang dirawat di Swiss tidak menunjukkan gejala apa pun. Ini berarti bahwa karantina, pelacakan kontak, dan isolasi kasus yang bergejala akan sangat efektif untuk memutus rantai penularan, berbeda dengan COVID-19 yang penyebarannya sulit dideteksi karena banyaknya kasus tanpa gejala yang tetap menular.

Tidak berarti kita boleh lengah. Ada satu aspek dari virus ini yang justru lebih mengkhawatirkan daripada COVID-19 yaitu tingkat fatalitasnya yang mengerikan. Hantavirus pulmonary syndrome atau HPS yang disebabkan oleh virus Andes memiliki tingkat kematian sekitar 30 hingga 40 persen di antara kasus bergejala parah. Sebagai perbandingan, tingkat kematian COVID-19 pada awal pandemi hanya sekitar 2 hingga 3 persen. Ini berarti bahwa meskipun jumlah kasus hantavirus akan jauh lebih sedikit, setiap individu yang terinfeksi menghadapi risiko kematian yang jauh lebih tinggi. Saat ini belum ada pengobatan antivirus spesifik atau vaksin yang tersedia untuk hantavirus, meskipun kabar baiknya adalah para peneliti dari University of Bath tengah mengembangkan kandidat vaksin yang menjanjikan menggunakan teknologi mRNA dan teknologi ensilikasi yang revolusioner untuk mengatasi tantangan rantai dingin.

Yang juga perlu dicermati adalah potensi evolusi virus. Seorang ahli virologi menjelaskan bahwa virus Andes sebenarnya telah menanamkan bakat untuk menginfeksi manusia karena reseptornya yaitu PCDH1 dan integrin tersebar luas di saluran pernapasan manusia. Namun saat ini virus ini masih canggung dalam replikasi dan perakitannya yang berlangsung jauh di dalam kompleks Golgi sel, sehingga prosesnya lambat dan tidak efisien. Kekhawatiran para ilmuwan adalah bahwa dengan peluang evolusi dan seleksi alam, virus ini dapat bermutasi menjadi bentuk yang lebih mudah menular. Inilah mengapa wabah di kapal pesiar yang padat menjadi peringatan dini yang berharga.

Dari perspektif kepemimpinan global, respons terhadap wabah ini menunjukkan adanya pembelajaran dari pandemi COVID-19. WHO segera mengaktifkan mekanisme International Health Regulations atau IHR, mengoordinasikan pelacakan kontak di 12 negara, merekomendasikan masa pemantauan aktif selama 42 hari yang merupakan masa inkubasi maksimal hantavirus, dan secara konsisten mengedukasi publik bahwa risiko global tetap rendah.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus secara terbuka menyatakan bahwa tidak ada tanda wabah yang lebih besar akan terjadi. Pejabat WHO lainnya, Abdirahman Mahamud, menambahkan bahwa mereka tidak mengantisipasi epidemi besar dengan pengalaman yang dimiliki negara negara anggota dan tindakan yang telah mereka ambil. Transparansi dan ketegasan komunikasi risiko ini sangat berbeda dengan kebingungan awal pandemi COVID-19.

Mungkinkah hantavirus memicu pandemi berikutnya. Secara teknis, kemungkinannya sangat rendah dengan karakteristik virus saat ini. Namun wabah ini harus dibaca sebagai sebuah ujian dan peringatan. Ujian bagi seberapa baik sistem surveilans global dapat mendeteksi dan merespons wabah penyakit baru yang muncul. Ujian bagi kemampuan koordinasi internasional dalam pelacakan kontak, karantina lintas batas, dan berbagi data. Dan yang terpenting, peringatan bahwa alam terus menghasilkan ancaman ancaman baru, dan kita tidak boleh tertidur dalam kesiapsiagaan hanya karena satu pandemi telah berlalu. Hantavirus saat ini bukanlah COVID-19 berikutnya, namun ia adalah pengingat bahwa dunia harus terus berinvestasi dalam riset vaksin, penguatan sistem kesehatan, dan arsitektur keamanan kesehatan global karena pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah pandemi berikutnya akan datang, melainkan kapan dan seberapa siap kita menghadapinya.

Oleh: Editorial Gerantara

Daftar Referensi

  1. World Health Organization. 2026, 7 Mei. WHO Director General’s opening remarks at the media briefing 7 May 2026. https://www.who.int/news-room/speeches/item/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing—7-may-2026
  2. Bernama. 2026, 12 Mei. No Signs Of Larger Outbreak As 11 Hantavirus Cases Linked To Cruise Ship WHO. https://bernama.com/en/news.php/world/news.php/?id=2556193
  3. GeneOnline. 2026, 12 Mei. Cruise Ship Hantavirus Outbreak Revives COVID-19 Era Fears as WHO Says Public Risk Remains Low. https://www.geneonline.com/cruise-ship-hantavirus-outbreak-revives-covid-19-era-fears-as-who-says-public-risk-remains-low
  4. CIDRAP University of Minnesota. 2026, 11 Mei. More hantavirus cases emerge as passengers debark cruise ship. https://www.cidrap.umn.edu/misc-emerging-topics/more-hantavirus-cases-emerge-passengers-debark-cruise-ship
  5. American Academy of Pediatrics. 2026, 11 Mei. CDC calls on clinicians to watch for hantavirus but broad spread extremely unlikely. https://publications.aap.org/aapnews/news/35083/CDC-calls-on-clinicians-to-watch-for-hantavirus
  6. Euronews with Associated Press. 2026, 13 Mei. Scientists race to develop hantavirus vaccine for new strain. https://www.euronews.com/health/2026/05/13/is-there-a-hantavirus-vaccine-scientists-race-to-develop-one-for-new-strain
  7. News Medical Net. 2026, 8 Mei. Promising new Hanta virus vaccine under development by University of Bath researchers. https://www.news-medical.net/news/20260508/Promising-new-Hanta-virus-vaccine-under-development-by-University-of-Bath-researchers.aspx
  8. Khan A et al. 2003. Hantaviruses a tale of two hemispheres. Panminerva Medica. 451, 43-51. PubMed PMID 12682619. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed.16418439/12682619
  9. Chin R L dan Colina D. 2008. Hantavirus Chapter 70 dalam Emergency Management of Infectious Diseases. Cambridge University Press. https://www.cambridge.org/core/books/abs/emergency-management-of-infectious-diseases/hantavirus/F69855C6225AC5C4A4C470207741B652
Exit mobile version