Akhir-akhir ini, saya memperhatikan perkembangan aspirasi di ruang publik.
Dan apa yang saya lihat, saya dengar dengan penuh perhatian, mulai dari ruang podcast yang elitis, hingga algoritma penonton yang lonjakannya sangat meragukan, termasuk robot robot komentator yang saya curiga berbayar yang pro terhadap konten konten berwujud kolonialisme moderen, yang menurut saya semakin hari semakin memprihatikan.
Apa yang saya maksudkan ini, perihal sekelompok orang suci tampil di media sosial yang gak pernah mengenang sejarah, mengatakan “kalau orang miskin dilarang kritik pemerintah” secara langsung mereka bermaksud mengatakan dasar pengangguran, dasar miskin, kau tidak layak bicara mengkritik pemerintah.
Ini adalah gambaran bahwa Kemiskinan dan pengangguran dijadikan bahan olok-olok, bahan hinaan, bahan tertawaan segelintir orang-orang yang terafiliasi dengan kaum pemodal.
Bayangkan saja, Kritik terhadap penguasa sekarang ini dijawab dengan hinaan yang sangat berani. Seolah olah-olah mereka lahir dari cahaya paling terang benderang, seolah olah tubuh mereka yang tak pernah kotor dan berbau itu adalah emas lahir dari masyarakat yang tak pernah di jajah.
Saya curiga jangan sampai orang orang yang mengatakan itu, bagian dari lingkaran setan kapitalis yang selama ini menghisap keringat rakyat, dimana tidak ada bedanya mereka dengan koruptor -koruptor penghisap dan perampas hak rakyat itu.
Ucapan seperti ini dalam sejarah perbudakan di dunia sejujurnya bukanlah hal yang baru.
Seorang budak algoritma oligarki membela tuanya, karna takut pekerjaannya terancam.
Seorang penjilat di birokrasi membela pemimpinya yang salah mengurus urusan publik akan dengan keras menggonggong.
Penghinaan dan tawa mereka itu adalah senjata, sebuah candaan penuh racun yang lahir dari pikiran dangkal dan menyesatkan.
Mereka menuduh kaum miskin malas dan menganggapnya sebagai kodrat di negara yang banyak pejabatnya sakit. Mereka menyebut pengangguran sebagai manusia yang tidak mau bekerja, tidak punya skill, tidak punya kemauan ditengah korupsi bergentayangan.
Tuduhan tersebut secara langsung ingin menutupi kenyataan material bahwa oligarki kapitalisme selama ini gemar memproduksi pengangguran massa. Kehadiran para pengangguran dipertahankan sebagai alat tekan upah buruh serta memperkuat posisi tawar pemodal dan parahnya skenario itu marak terjadi ditengah negara sibuk pada urusan yang receh dan seremonial.
Kemiskinan itu lahir dari akumulasi kapital, lahir dari pikiran pikiran bejat dan rakus, jauh dari soal kegagalan moral. Kemiskinan bukanlah kecelakaan atau efek samping yang tidak disengaja, melainkan kondisi yang disengaja karena diperlukan agar kapital bisa terus bertumbuh.
Seperti yang kita bahas sebelumnya, keberadaan pengangguran (cadangan tenaga kerja) adalah alat untuk menekan upah. Akumulasi kapital terjadi ketika pemodal merebut surplus value (nilai lebih) dari kerja buruh. Pikiran bejatnya lahir dari ketakutan jika seluruh masyarakat menjadi kaya secara merata, tidak ada ruang bagi kapital untuk berekspansi dengan biaya murah. Jadi, secara struktural, kemiskinan adalah “sumbu” yang membuat mesin kapitalisme oligarki terus berputar.
Bisa cek, berapa banyak buruh yang bekerja mati-matian tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehat?
Jadi tatkala hak mengkritik diukur dari isi rekening, diukur dari pakaian yang mahal, mobil yang banyak, sudah kerja apa belum, orang kaya atau orang miskin, harta yang melimpah atau peminta-minta, maka jangan heran kalau Demokrasi kita berubah jadi Plutokrasi, logika yang berlaku dan menang bukan lagi kebenaran atau kebajikan, melainkan daya beli, daya beli, dan daya beli. Suara pengangguran atau buruh pabrik dianggap pengganggu stabilitas, sementara keluhan pengusaha besar langsung didengar menteri. Akhirnya, kebijakan publik pun lebih responsif terhadap sentimen pasar daripada aspirasi rakyat.
Demokrasi oligarki memang dirancang untuk menyamarkan kediktatoran kapital. Mendesain panggung politik hanya pantas untuk mereka yang membayar ini dan itu, membayar jabatan dan akses politik, dan mirisnya algoritma media sosial mempercepat pembusukan itu.
Kelas pemodal membeli trending, menyewa pasukan buzzer, membeli ruang perhatian dari hasil eksploitasi atas rakyat pekerja dan hasil hasil alam milik rakyat.
Mereka menguasai alat produksi kesadaran digital. Kritik terhadap penguasa dibingkai sebagai kebencian, kebodohan, atau ocehan orang tanpa kerja, orang sampah kata mereka.
Tujuannya jelas, mendelegitimasi suara kritis sebelum sempat didengar.
Soekarno sudah memperingatkan hal ini, Ia menyebut rakyat kecil yang miskin tetapi memiliki alat produksi kecil sebagai Marhaen.
Kaum Marhaen, kata Soekarno, miskin akibat sistem penghisapan, tidak pernah karena malas. Penjajah berganti wajah menjadi kapitalisme raksasa.
Republik yang lahir untuk memerdekakan rakyat jelata dari penindasan, kini tragisnya mereproduksi logika kolonial dalam kemasan baru. Republik yang didirikan untuk melawan penjajah, tapi kini justru melanggengkan wajah baru penjajahan
Proklamasi adalah jembatan emas menuju keadilan sosial yang digapai dengan darah untuk melawan imperialisme, merobohkan feodalisme, dan menolak dominasi segelintir modal. Menolak feodalisme dan imperialisme adalah warisan darah pendiri bangsa.
Namun, jembatan itu runtuh ketika negara jatuh ke tangan oligarki. Di situlah Proklamasi berubah menjadi sekadar nisan di atas kuburan cita-cita kesejahteraan, cita cita kemerdekaan.
Karena itu, kritik terhadap penguasa bukanlah pengkhianatan, melainkan bentuk cinta republik yang paling jujur. Hanya dengan keberanian menyuarakan kebenaran, negara bisa dicegah dari transformasi mengerikannya menjadi mesin pemeras rakyat.
Tawa atas kemiskinan adalah bahasa kesombongan kelas penindas dan jangan keliru menafsirkan tawa itu sebagai kegembiraan.
Sejatinya itu adalah taring kelas penindas yang terukir dalam bentuk suara. Semakin keras mereka tertawa, semakin rapuh fondasi kekuasaan mereka, karena tawa adalah senjata orang yang sadar bahwa keadilan sebentar lagi akan datang dan mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan selain tawa hampa.
Kita, rakyat jelata perlu melakukan sebuah gerakan masif, revolusi kesadaran yang beruntun dimana rakyat harus bangun dari tidur, membongkar struktur penghisapan, dan menolak takdir buatan.
Saatnya kita berhenti menganggap diri kita bisa bahagia sendiri sendiri, berjuang sendiri sendiri, apalag berkhayal seperti masyarakat kapitalis yang sakit itu. Kita harus keluar sebagai negara yang oleh masyarakatnya solid, bersatu, merobohkan oligarki kapitalis dan membangun kekuatan kolektif diseluruh lini pembangunan. Tanpa itu, tanpa gotong royong, semua pidato-pidato yang berserakan dimana mana itu, hanyalah omong kosong belaka.
Kita tidak boleh menjadi alat legitimasi kekuasaan yang membela oligarki, semua rakyat dinegara yang kaya akan sumber daya alam, berhak bahagia, berhak mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan gratis sampai mati, berhak kaya dalam batasan sewajarnya. Tidak boleh lagi ada si kaya semakin kaya, si miskin semakin miskin.
negara, tempat oligarki berkembang biak dan tumbuh subur ini, lahir dari perjuangan rakyat jelata.
Lahir dari sebuah perkumpulan rakyat jelata yang dipersatukan di berbagai kerajaan dan kesultanan di belahan nusantara yang merasa senasib sepenanggungan, terjajah atas kolonialisme dan impreslisme.
Ingat bagi anda yang menghina rakyat pekerja, yang menghina rakyat miskin, lebih baik anda berhenti mengatakan itu lagi. Kenanglah sejarah dan memahami dengan amat teliti perjuangan perjuangan yang ada. Kebenaran pasti menang, keserakahan akan menggilas dirinya sendiri.
Soekarno pernah menyerukan “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.
Penulis: Ali Aludin Hamzah, Koordinator Nasional Lingkaran Mahasiswa Islam (LMI). Aktif dalam advokasi kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam