Site icon Gerantara

Mahasiswa KKA UM Kendari Tranformasikan Sekam Padi Menjadi Briket (Arang) Berkelanjutan Di Bombana

BOMBANA — Sekam padi sering kali dipandang sebagai sisa tak bernilai, jejak akhir dari proses panjang budi daya pertanian yang berakhir menumpuk atau terbuang dalam nyala api pembakaran terbuka. Padahal, dalam setiap helai sekam tertanam potensi energi yang belum terikat. Berangkat dari filosofi pemuliaan sumber daya alam, bahwa tak ada ciptaan yang sia-sia jika dikelola dengan bijak. kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Amaliah (KKA) Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) menginisiasi program konversi limbah sekam padi menjadi briket arang bernilai jual di Desa Lantawonua, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana.

Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Selvi Diliyanti Rizki dan mahasiswa KKA—Muhammad Rizky, Muhammad Syukur Syahri, Muh. Habil Fajri, Muhammad Ikmal Ferdy, Rangga Sugarda, Sulhamizan, Fitra Ramadhani, Fitriyanjani, Peni Rahmawati, Lisna, dan Dylla Aprilyani Asmar, hadir membawa pendekatan teknologi tepat guna yang terjangkau. Langkah ini hadir sebagai jawaban atas tantangan ekonomi dan lingkungan yang dihadapi masyarakat agraris setempat.

(ABSTRAK)

Sektor pertanian padi menghasilkan limbah sekam melimpah yang mencapai sebagian besar dari total bobot gabah kering giling. Tanpa pengelolaan terpadu, akumulasi limbah ini kerap memicu dampak buruk bagi kualitas udara dan ekosistem. Kegiatan ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif yang dipadukan dengan eksperimen lapangan.

Melalui inovasi alat pengarangan berefisiensi tinggi dan mesin pencetak briket yang ramah biaya, mahasiswa KKA UMK bersama masyarakat lokal berhasil menekan polusi asap serta mempercepat proses pembakaran. Secara ekonomi, inovasi ini mengubah limbah bernilai rendah menjadi komoditas energi terbarukan bermutu tinggi. Transformasi ini tidak hanya menekan risiko ekologis, tetapi juga menjadi pijakan baru dalam meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi petani Desa Lantawonua secara berkelanjutan.

(PENDAHULUAN)

Pertanian bukan sekadar ruang mata pencaharian, Tetapi pondasi peradaban dan penopang kedaulatan pangan. Di Desa Lantawonua, kelimpahan hasil panen padi berbanding lurus dengan timbulan limbah sekam. Sayangnya, keterbatasan akses teknologi dan keterampilan membuat sekam kerap dianggap beban lingkungan yang diselesaikan secara instan melalui pembakaran liar.

Secara filosofis, keberlanjutan hidup manusia sangat bergantung pada keseimbangan relasi antara manusia dan alam. Mengubah sekam menjadi briket bioarang adalah manifestasi nyata dari penguatan relasi tersebut. Pembriketan biomassa menghasilkan bahan bakar efisien berkadar asap rendah, berdaya bakar lama, serta minim emisi karbon. Kunci keberhasilan gerakan ini terletak pada keberadaan teknologi tepat guna yang dapat dioperasikan secara mandiri oleh kelompok tani, sehingga inovasi tidak berhenti sebagai teori, melainkan mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

(METODE)

Program ini mengombinasikan kajian kualitatif deskriptif melalui observasi partisipatif dan metode eksperimen teknis di lapangan. Subjek pendampingan berfokus pada para petani dan tokoh masyarakat Desa Lantawonua, dengan objek eksperimen berupa sekam padi sisa penggilingan lokal serta formulasi pembuatan briket.

Tahapan implementasi mencakup pemetaan ketersediaan bahan baku, rekayasa alat pencetak, formulasi bahan perekat alami, pengeringan, hingga pengujian kualitas daya bakar briket di lapangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Pemetaan Potensi Biomassa Lokal

Hasil pengamatan menunjukkan ketersediaan sekam padi yang sangat melimpah dan kontinu di Desa Lantawonua. Proporsi sekam yang mencapai porsi signifikan dari total panen gabah menyimpan potensi energi bersih yang sangat besar apabila dikonversi menjadi briket bioarang.

  1. Tahapan Rekayasa dan Uji Coba Lapangan

Eksperimen dilakukan secara kolaboratif bersama petani melalui rantai proses yang terukur. Proses diawali dari penyaringan sekam untuk membersihkan kotoran dan material pengganggu, dilanjutkan dengan pembakaran terkontrol guna meminimalisasi asap serta penghalusan tekstur.

Setelah itu, dilakukan pengadukan adonan arang sekam menggunakan perekat alami hingga mencapai tingkat kelembapan ideal. Adonan kemudian dipadatkan menggunakan alat pencetak mekanis sederhana guna menghasilkan kerapatan seragam, dilanjutkan dengan penjemuran di bawah paparan sinar matahari hingga kadar air menyusut optimal. Tahap akhir diisi dengan pengujian kestabilan api, efisiensi nyala, durasi bakar, dan tingkat emisi asap.

KESIMPULAN

Inovasi pemanfaatan sekam padi menjadi briket arang membuktikan bahwa batas antara “limbah” dan “sumber daya” hanya ditentukan oleh sentuhan pengetahuan dan kepedulian. Melalui pendampingan KKA UMK, masyarakat Desa Lantawonua kini memiliki alternatif energi ramah lingkungan sekaligus peluang usaha berbasis kemandirian lokal. Langkah kecil ini melampaui sekadar solusi masalah sampah; ini adalah wujud nyata dari upaya merawat bumi sekaligus mengangkat derajat ekonomi para petani.

Exit mobile version