Lakomea — Masa muda adalah bentang waktu paling krusial dalam pencarian jati diri, sebuah fase rentan di mana arah langkah menentukan pijakan masa depan. Menyadari bahwa menjaga generasi muda bukan sekadar menolak perilaku menyimpang, melainkan merawat akar moralitas peradaban, Kelompok 28 menggelar Sosialisasi Kenakalan Remaja di SMA Negeri 11 Bombana, Desa Lakomea, Kecamatan Rarowatu.
Kegiatan ini hadir sebagai ruang perenungan sekaligus edukasi kritis bagi para siswa. Di tengah gempuran dinamika zaman yang kian kompleks, para remaja diajak membedah berbagai realitas kenakalan masa kini, mulai dari luka tirani perundungan, jebakan pergaulan bebas, rimba penyalahgunaan media sosial, hingga bayang-bayang kelam tawuran dan narkoba. Edukasi ini disampaikan bukan untuk menghakimi, melainkan membentengi nurani agar para siswa mampu menimbang baik dan buruk secara bijaksana.
Interaksi berlangsung hidup dan penuh empati. Diskusi dua arah menjadi wadah bagi para siswa untuk menguraikan keresahan serta meneguhkan komitmen diri. Di balik dialog tersebut, tertanam pemahaman filosofis bahwa kebebasan sejati seorang remaja tidak terletak pada keliaran bertindak, melainkan pada keberanian mengambil keputusan bijak yang menuntun pada kemuliaan hidup.
“Generasi muda adalah benih peradaban. Menyediakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang mereka bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab moral bersama agar benih tersebut tidak patah sebelum berkembang,” tegas salah satu perwakilan Kelompok 28.
Melalui gerak kolektif ini, sosialisasi yang dilaksanakan tidak berhenti sebagai seremonial belaka, melainkan menjadi pemicu kesadaran berkelanjutan. Sinergi antara siswa, pendidik, orang tua, dan masyarakat diharapkan terus terjalin demi melestarikan lingkungan sekolah yang aman, humanis, serta berdaya bagi tumbuh kembang masa depan Desa Lakomea.