Oleh: Alialudin Hamzah ( Pemerhati Lingkungan & Sumber Daya Alam)
Di saat Iran meluncurkan satelit ke angkasa pada akhir Desember 2025, Indonesia justru meluncurkan debat panjang soal ijazah ke warung kopi, linimasa media sosial dengan banyak episode, hingga meja aparat penegak hukum yang makin gelap. Satu negara sibuk menguasai orbit, negara lain jsutru sibuk mengorbitkan isu receh agar tetap viral.
Iran, yang hidup di bawah sanksi, tekanan militer, dan embargo teknologi, memilih fokus pada ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup bangsa. Padahal secara ekonomi, Produk Domestik Bruto Iran hanya sekitar US$400 miliar. Namun Iran tetap konsisten dalam mengalokasikan sekitar 0,8–1 persen PDB untuk riset dan pengembangan, terutama di sektor strategis seperti antariksa, pertahanan, dan energi
Indonesia justru berada di posisi ironis. Dengan PDB lebih dari US$1,4 triliun, alias hampir tiga kali lipat dari Iran, dan sumber daya alam melimpah, anggaran riset Indonesia justru tidak pernah stabil di atas 0,3 persen dari total PDB. Artinya, dari setiap Rp100 yang dihasilkan negara, kurang dari Rp1 dialokasikan untuk riset dan inovasi. Sisanya habis di belanja rutin, politik jangka pendek, dan kegaduhan yang tak berujung hingga sekarang.
Ironisnya, keributan di negara wakanda ini, kita sebut sebagai bagian dari demokrasi yang dimodernisasi oleh teknologi. Padahal jika ditelaah yang terjadi lebih mirip kompetisi adu gaduh. Politik kita terlihat seperti acara lawak yang bersandar di atas teknologi orang lain, bedanya, acara lawakan ini dibiayai dengan uang rakyat atas nama negara.
Lebih jauh terkait politik Indonesia bekerja seperti komedi situasi. Ada episode baru tiap minggu. Ada tokoh antagonis dadakan. Ada kriminalisasi sebagai punchline. Ada korupsi sebagai sponsor tetap. Semua ramai, semua bising, namun jarang menyentuh substansi.
Akibatnya, isu strategis seperti teknologi, riset, kedaulatan data, dan industri maju kalah pamor dari gosip politik murahan. Padahal Indonesia memiliki lebih dari 210 juta pengguna internet, salah satu yang terbesar di dunia. Kita adalah raksasa konsumsi digital, tetapi kerdil dalam produksi teknologi. Rajin memakai, malas mencipta, itulah kita sekarang.
Negeri yang konon besar ini juga seperti rumah megah yang penghuninya sibuk ribut soal fotokopi ijazah, sementara atapnya bocor dan fondasinya retak. Lagi-lagi kita melihat pola yang sama, berulang ditengah negara lain sibuk membangun roket, membangun satelit, mambangun jembatan dan jalan moderen. Sementara kita sibuk membangun narasi saling menjatuhkan.
Iran sendiri membangun roket dan kini memiliki lebih dari belasan satelit aktif. China membangun chip dan mendominasi rantai pasok teknologi global. India membangun industri luar angkasa murah, bahkan mengirim misi ke Mars dengan biaya lebih rendah dari produksi film Hollywood. Dan Indonesia masih membangun narasi saling menjatuhkan.
Dalam kondisi ini, energi bangsa tidak diarahkan ke riset berkualitas tinggi, laboratorium yang aktif menghasilkan rekomendasi teknologi, atau kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Energi kita justru habis di laporan polisi, talkshow penuh teriakan, buzzer bayaran, dan analisis politik instan.
Riset dianggap beban anggaran. Inovasi dianggap tidak seksi. Yang dianggap seksi justru konflik, drama, dan sensasi. Situasinya membuat ruang publik terlalu berisik, bahkan ketika negeri ini dipenuhi orang-orang pintar.
Padahal Indonesia pernah punya sejarah teknologi, satelit Palapa, industri pesawat terbang, hingga satelit LAPAN yang berhasil mengorbit. Semua itu membuktikan bahwa potensi ada. Yang tidak konsisten adalah keberpihakan politik terhadap ilmu pengetahuan. Jadi dalam hal ini, kita tidak kekurangan kecerdasan, yang kurang adalah keseriusan kolektif. Selanjutnya negara besar ini justru seperti siswa jenius yang gagal naik kelas karena lebih sibuk ribut di kantin daripada belajar.
Di sisi lain, elite politik sibuk mengamankan kekuasaan, lupa bahwa tanpa penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan, kekuasaan esok hari hanyalah khayalan, rapuh, mudah runtuh, dan hancur oleh kebisingan yang menghambat keadilan serta kemajuan kolektif.
Korupsi dibiarkan menjadi budaya. Kriminalisasi dijadikan alat. Publik diajak ikut bertepuk tangan, seolah semua berjalan normal dan baik-baik saja.
Pada akhirnya, ketertinggalan yang tampak di depan mata akibat salah prioritas. Iran sudah membuktikan satu hal sederhana bahwa fokusnya bisa melahirkan kemajuan, meski ditekan dari berbagai arah. Indonesia justru sibuk membuktikan hal yang menyedihkan, miskin substansi, kaya pertengkaran receh.
Kita tampaknya lebih rajin membongkar masa lalu orang lain daripada membangun masa depan bersama. Karenanya jangan heran kemudian jika suatu hari nanti, kita bangga hanya menjadi penonton peluncuran satelit negara lain, dengan sinyal internet dari satelit asing, data di server asing, dan masa depan yang juga terasa asing.
Sekali lagi, negeri besar ini tidak kekurangan potensi. Tidak kekurangan orang pintar dan orang bijak. Yang kita miliki berlebih justru hasilkan kegaduhan. Dan sejarah sudah berulang kali membuktikan bagaimana budaya saling merusak sebabkan kekacauan dan kegaduhan yang tidak pernah melahirkan peradaban emas.
