Bombana — Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Amaliah (KKA) Universitas Muhammadiyah Kendari di Desa Watu-Watu, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, tidak hanya diisi dengan pelaksanaan program kerja. Selama berada di tengah masyarakat, mahasiswa Kelompok 15 berupaya mengenali kondisi desa sekaligus mengambil bagian dalam berbagai kebutuhan yang ditemui di lapangan.
Desa Watu-Watu merupakan salah satu desa di Kecamatan Lantari Jaya yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Desa ini memiliki lahan yang mendukung budidaya padi sawah, jagung, dan kedelai. Selain pertanian, terdapat pula potensi perkebunan skala besar, peternakan sapi dan kerbau, serta peluang pengembangan potensi lingkungan karena lokasinya yang berdekatan dengan kawasan penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.
Di balik potensi yang dimiliki, Desa Watu-Watu juga menghadapi sejumlah tantangan. Kehidupan pertanian masyarakat masih dipengaruhi oleh ketersediaan air dan kondisi irigasi, sementara musim kemarau dapat meningkatkan risiko kekeringan. Di sisi lain, penataan lingkungan dan kebutuhan akan informasi wilayah juga menjadi bagian dari dinamika kehidupan desa. Kondisi tersebut kemudian menjadi ruang bagi Kelompok 15 untuk hadir dan mengambil bagian melalui berbagai kegiatan selama masa pengabdian.
Dengan kondisi tersebut, KKA Kelompok 15 mengambil fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan lingkungan, pendidikan, sosial, keagamaan, kesehatan, serta fasilitas informasi desa. Program-program tersebut dijalankan secara bertahap sejak kedatangan mahasiswa pada awal Agustus hingga berakhirnya masa pengabdian pada awal September 2026.
Memulai Pengabdian dari Masyarakat
Kelompok 15 mulai memasuki Desa Watu-Watu pada 3 Agustus 2026 setelah mengikuti kegiatan penerimaan KKA di Kantor Bupati Bombana. Sehari setelah tiba di lokasi, mahasiswa mulai berinteraksi dengan masyarakat di sekitar desa. Kegiatan awal tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk saling mengenal sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat mereka akan melaksanakan pengabdian.
Pada 5 Agustus, mahasiswa memperkenalkan diri kepada kepala desa dan perangkat desa. Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan makan bersama di rumah kepala desa. Sehari berikutnya, mahasiswa kembali melakukan koordinasi di Balai Desa untuk membahas program kerja yang akan dilaksanakan selama berada di Watu-Watu.
Tahap awal tersebut menjadi bagian penting sebelum program dijalankan. Alih-alih langsung beraktivitas, mahasiswa terlebih dahulu membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Dari proses tersebut, kegiatan KKA kemudian diarahkan pada sejumlah kebutuhan yang dapat dikerjakan selama masa pengabdian.
Menata Ruang Desa dan Memperkuat Informasi Wilayah






Salah satu bentuk kegiatan yang terlihat secara langsung adalah pembenahan sejumlah fasilitas dan penanda wilayah desa.
Kelompok 15 melakukan renovasi gapura desa serta papan batas Dusun I dan Dusun II. Papan batas yang sebelumnya mengalami pemudaran warna dan kerusakan dibersihkan, dicat kembali, kemudian diberi penanda nama yang lebih jelas. Gapura desa juga dibersihkan dan diperbarui catnya.
Pekerjaan tersebut bukan sekadar memperbarui tampilan fisik. Penanda wilayah memiliki fungsi untuk membantu masyarakat maupun pendatang mengenali pembagian wilayah di Desa Watu-Watu. Karena itu, pembenahan gapura dan batas dusun ditempatkan sebagai bagian dari upaya membuat lingkungan desa lebih tertata dan informatif.
Kegiatan serupa dilanjutkan melalui pembuatan plang jalan dan papan nama aparat desa. Proses pembuatannya dilakukan di Posko Kelompok 15 sebelum dipasang di lokasi yang telah ditentukan. Laporan kegiatan mencatat bahwa pemasangan tersebut menghasilkan penanda pada sejumlah persimpangan strategis dan kediaman aparat desa.
Kelompok 15 juga membuat peta administrasi Desa Watu-Watu. Peta tersebut disusun melalui pengumpulan dan pengolahan data menggunakan ArcGIS, dengan memanfaatkan data Google Satelit serta observasi langsung di wilayah desa. Peta kemudian dicetak dalam bentuk baliho dan dipasang di depan Balai Desa sebagai media informasi mengenai wilayah desa.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa salah satu perhatian KKA bukan hanya pada kegiatan yang berlangsung selama mahasiswa berada di desa, tetapi juga pada fasilitas yang masih dapat digunakan setelah masa pengabdian selesai.
Gotong Royong Menjadi Bagian dari Kegiatan Desa




Selain membangun dan memperbaiki fasilitas, Kelompok 15 turut terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat secara langsung.
Kerja bakti dan Jumat Bersih dilakukan di sejumlah ruang publik, antara lain Balai Desa, Kebun Dasawisma, masjid, dan lapangan Desa Watu-Watu. Kegiatan tersebut diarahkan untuk menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan sekaligus memperkuat semangat gotong royong antara mahasiswa dan masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa juga terlihat dalam kegiatan bersama ibu-ibu PKK. Pada 7 Agustus, mahasiswa mengikuti senam bersama di Balai Desa. Dua hari kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan senam pada pagi hari dan pembersihan kebun PKK pada sore harinya.
Dalam kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak berdiri sebagai pihak yang hanya menjalankan program, tetapi ikut masuk ke dalam aktivitas masyarakat. Interaksi tersebut menjadi salah satu cara Kelompok 15 membangun hubungan sosial selama masa KKA.
Pendidikan Anak dan Remaja Menjadi Perhatian




Pemberdayaan masyarakat dalam program Kelompok 15 juga diarahkan pada lingkungan pendidikan. Dua kegiatan secara khusus menyasar anak-anak dan remaja, yakni sosialisasi bahaya narkoba di SMPN 31 Lantari Jaya dan sosialisasi dampak penggunaan gadget di SDN 156 Watu-Watu.
Di SMPN 31 Lantari Jaya, mahasiswa memberikan edukasi mengenai narkoba, mulai dari pengertian dan jenisnya, faktor yang mendorong penyalahgunaan, dampak terhadap kesehatan dan masa depan, hingga cara mencegah serta menolak ajakan yang dapat membawa pada penyalahgunaan. Materi disampaikan menggunakan presentasi dan modul yang disesuaikan dengan usia siswa.
Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Siswa diberi ruang untuk bertanya dan berdiskusi. Berdasarkan laporan, siswa terlihat antusias dan aktif selama kegiatan berlangsung. Materi yang diberikan diharapkan dapat menambah pemahaman mereka mengenai risiko penyalahgunaan narkoba serta mendorong mereka untuk menjaga pola hidup sehat dan fokus pada pendidikan.
Sementara itu, di SDN 156 Watu-Watu, Kelompok 15 mengangkat persoalan yang lebih dekat dengan keseharian anak-anak, yakni penggunaan gadget.
Sosialisasi tersebut membahas manfaat dan dampak negatif penggunaan gawai, termasuk risiko kecanduan game, penurunan minat belajar, serta gangguan kesehatan mata. Agar mudah diterima siswa sekolah dasar, kegiatan dikemas melalui ice breaking, diskusi interaktif, serta tanya jawab berhadiah.
Pesan yang dibawa sederhana, tetapi berkaitan langsung dengan keseharian anak: penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan belajar, bermain di luar ruangan, serta berinteraksi bersama keluarga dan teman sebaya. Dalam laporan, kegiatan tersebut dicatat memberikan pemahaman kepada siswa mengenai batas waktu penggunaan gadget yang sehat dan bahaya kecanduan gawai.
Dua kegiatan pendidikan ini memperlihatkan bagaimana KKA tidak hanya menyentuh persoalan fisik desa, tetapi juga mencoba hadir dalam kebutuhan edukasi masyarakat, terutama pada kelompok usia anak dan remaja.
Menjaga Kegiatan Keagamaan di Tengah Masyarakat


Kehidupan masyarakat Watu-Watu yang memiliki ikatan sosial dan kekeluargaan yang kuat juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan.
Kelompok 15 melaksanakan pendampingan pembelajaran Al-Qur’an dan mengajar mengaji anak-anak. Kegiatan tersebut dilakukan setelah berkoordinasi dengan pengurus TPA/TPQ dan tokoh agama setempat. Pendampingan dilaksanakan secara rutin pada sore hari atau setelah salat Magrib, dengan materi yang diberikan secara bertahap mulai dari membaca Iqro dan Al-Qur’an hingga pengenalan makhraj dan tajwid dasar.
Selama berada di Desa Watu-Watu, mahasiswa secara rutin mendampingi anak-anak dalam belajar mengaji. Pendampingan tersebut turut membantu meningkatkan kemampuan dan kelancaran mereka dalam membaca Iqro dan Al-Qur’an.
Mahasiswa juga mengikuti kegiatan sosial-keagamaan masyarakat. Salah satunya adalah kegiatan yasinan sekaligus silaturahmi ke Kampung Adat Hukaea Lama di Dusun III Desa Watu-Watu.
Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan semacam ini membuat hubungan yang dibangun selama KKA tidak hanya berlangsung melalui program kerja formal, tetapi juga melalui kegiatan yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Kesehatan dan Kebersamaan dalam Aktivitas Masyarakat



Bidang kesehatan menjadi bagian lain dari kegiatan Kelompok 15. Mahasiswa menghadiri sekaligus membantu pelaksanaan Posyandu bersama masyarakat Desa Watu-Watu pada 14 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung aktivitas pelayanan yang berlangsung di Posyandu desa.
Kegiatan olahraga bersama juga menjadi bagian dari interaksi mahasiswa dengan masyarakat. Senam bersama ibu-ibu Desa Watu-Watu dilakukan beberapa kali selama masa KKA. Selain menjadi aktivitas fisik, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan antara mahasiswa dan warga.
Ke depan, kegiatan senam sehat bersama ibu-ibu diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin pada akhir pekan sebagai salah satu kegiatan olahraga dan kebersamaan masyarakat.
Merayakan Kemerdekaan Bersama Warga


Suasana kebersamaan juga semakin terlihat ketika masyarakat Desa Watu-Watu memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kelompok 15 terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan 17 Agustus, termasuk berkolaborasi dengan mahasiswa KKN UHO. Setelah mengikuti upacara pengibaran bendera, mahasiswa turut mengikuti pawai pembukaan lomba tingkat Kecamatan Lantari Jaya dan kemudian bersama mahasiswa KKN UHO menyelenggarakan berbagai perlombaan di Desa Watu-Watu.
Perlombaan disiapkan untuk berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Jenis lomba yang dilaksanakan antara lain makan kerupuk, tarik tambang, balap kelereng, bola gotong, bola dangdut, balap karung dan domino.
Persiapan dilakukan dengan pembagian tugas panitia, penggalangan hadiah, perizinan kepada pemerintah desa, pembersihan lokasi, penyusunan bagan perlombaan, hingga penyiapan hadiah. Saat pelaksanaan, mahasiswa Posko 15 dan KKN UHO berbagi tugas dalam pendaftaran peserta, memandu pertandingan, menjadi wasit, serta mencatat pemenang. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan pembagian hadiah kepada para pemenang.
Bagi kegiatan KKA, keterlibatan dalam perayaan kemerdekaan menjadi bagian dari cara mahasiswa membaur dengan masyarakat. Program tidak selalu harus hadir dalam bentuk pembangunan fisik atau penyuluhan, tetapi juga dapat hadir melalui kegiatan yang mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan.
Dari Program yang Berlangsung Menuju Keberlanjutan
Masa KKA pada akhirnya memiliki batas waktu. Mahasiswa akan kembali ke kampus, sementara kehidupan dan kebutuhan masyarakat di Desa Watu-Watu akan terus berjalan. Karena itu, berbagai program yang telah dilaksanakan diharapkan
tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan desa, tetapi dapat terus dilanjutkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Fasilitas yang telah dibuat, seperti peta desa, plang jalan, dan papan nama aparat, perlu dipelihara oleh pemerintah desa dan masyarakat agar tetap dapat digunakan. Peta administrasi yang dipasang di depan Balai Desa juga dapat terus dimanfaatkan sebagai media informasi wilayah desa.
Begitu pula dengan kegiatan yang sifatnya rutin. Pendampingan mengaji dapat dilanjutkan oleh pengurus TPA/TPQ, tokoh agama, dan masyarakat. Senam sehat bersama ibu-ibu dapat dipertahankan sebagai kegiatan olahraga masyarakat pada akhir pekan. Sementara kegiatan kerja bakti dan Jumat Bersih dapat dilanjutkan secara berkala dengan melibatkan pemerintah desa dan warga.
Ke depan, kegiatan pengabdian di Desa Watu-Watu diharapkan dapat terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang pertanian, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan pemanfaatan teknologi informasi.
Pada titik inilah pengabdian mahasiswa tidak hanya dilihat dari berapa banyak kegiatan yang berhasil dilaksanakan, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut dapat diteruskan oleh masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Pengabdian yang Berangkat dari Kebutuhan Lokal
Selama masa pengabdian, Kelompok 15 tidak hanya menjalankan program yang telah dirancang, tetapi juga berusaha menyesuaikannya dengan ruang kehidupan masyarakat Desa Watu-Watu. Infrastruktur desa dibenahi, ruang publik dirawat, anak-anak didampingi belajar mengaji, siswa sekolah diberi edukasi mengenai narkoba dan penggunaan gadget, kegiatan kesehatan diikuti, hingga aktivitas sosial masyarakat dijalani bersama.
Rangkaian tersebut menunjukkan satu pola yang sama: pengabdian dimulai dari kedekatan dengan masyarakat dan kebutuhan yang ada di lingkungan setempat.
Desa Watu-Watu sendiri memiliki potensi besar pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan, serta kehidupan sosial masyarakat yang ditopang oleh kekeluargaan dan gotong royong. Di tengah potensi tersebut, kebutuhan terhadap pendidikan, lingkungan, kesehatan, informasi wilayah, dan keberlanjutan kegiatan masyarakat tetap menjadi ruang yang dapat terus dikembangkan.
KKA Kelompok 15 menjadi salah satu bagian kecil dari proses tersebut. Kehadiran mahasiswa selama Agustus hingga awal September 2026 bukan untuk menyelesaikan seluruh persoalan desa, melainkan untuk mengambil bagian melalui kegiatan yang dapat dilakukan selama masa pengabdian.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program pengabdian tidak hanya ditentukan oleh apa yang selesai ketika mahasiswa masih berada di lokasi. Lebih jauh, keberlanjutan fasilitas, kegiatan, dan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting agar apa yang telah dikerjakan tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Dari sebuah papan nama, peta desa, kegiatan belajar mengaji, ruang kelas, lapangan, hingga kegiatan bersama warga, setiap program menjadi bagian dari pengalaman KKA Kelompok 15 di Desa Watu-Watu sebuah pengalaman pengabdian yang berangkat dari upaya mengenal masyarakat, bekerja bersama mereka, dan meninggalkan sesuatu yang dapat dilanjutkan setelah mahasiswa kembali.
Bersama masyarakat, berkarya untuk desa, dan meninggalkan manfaat.
