Kelompok 2 KKA UM Kendari Inovasikan Cumi Menjadi Sambal Bernilai Ekonomi

BOMBANA – Laut merupakan rahim kehidupan yang menyimpan napas kesejahteraan dan kekayaan tanpa batas. Di balik hempasan gelombangnya yang tenang di pesisir Rumbia, tersirat potensi bahari yang menanti sentuhan tangan-tangan kreatif untuk melampaui takdirnya sebagai sekadar komoditas mentah. Memahami kedalaman filosofis tersebut, Kelompok 2 Mahasiswa Kuliah Kerja Amaliah (KKA) Universitas Muhammadiyah Kendari hadir mengejawantahkan pengabdian masyarakat bahwa bukan hanya sebagai rutinitas akademis, tetapi sebagai ikhtiar luhur meretas batas daya saing masyarakat pesisir melalui inovasi bernilai ekonomi tinggi.

Langkah nyata ini terpotret abadi di Kantor Kelurahan Doule, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana, di mana ruang perjumpaan intelektual dan kearifan lokal menyatu dalam satu harmoni. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan bukan sekadar untuk mentransfer keterampilan teknis, tetapi menyemai benih kesadaran kolektif bahwasanya hasil tangkapan laut memiliki kehormatan untuk ditingkatkan derajatnya. Melalui forum edukasi ini, mahasiswa membimbing warga setempat untuk melihat laut bukan lagi dengan kacamata ketimpangan nilai, tetapi sebagai panggung kemandirian ekonomi yang siap diolah menjadi produk unggulan daerah.

Podcast & Dokumenter
Nalar Juang
Kemana Nalar Muda Hidup, Zaman Terang
Tonton Nalar Juang →

Pemilihan cumi-cumi sebagai tirta utama inovasi ini bukanlah sebuah kebetulan, tetapi cerminan atas pembacaan mendalam terhadap kekayaan bawaan bumi Doule. Cumi-cumi yang selama ini kerap bermuara langsung di pasar tradisional dalam bentuk mentah dengan fluktuasi harga yang rapuh, diangkat kualifikasinya menjadi produk Sambal Cumi bernilai tambah. Inovasi ini memuat filosofi metamorfosis, mengubah kekayaan laut yang fana menjadi entitas kuliner yang tahan lama, kaya rasa, serta memiliki daya pikat pasar yang jauh lebih luas dan berkelas.

Namun, sebuah inovasi tidak akan pernah menemukan jiwanya tanpa menyentuh aspek daya tahan dan daya pikat penampilan. Oleh karena itu, mahasiswa KKA UM Kendari tidak berhenti pada batas racikan resep di dapur, tetapi melangkah lebih jauh dengan memberikan edukasi komprehensif mengenai teknik pengemasan hampa udara dan estetika branding produk. Kehadiran kemasan yang higienis, artistik, dan modern ini menjadi jembatan filosofis yang menghubungkan tradisi kuliner lokal menuju panggung pasar modern yang kompetitif.

Lebih dari sekadar menciptakan satu varian produk olahan baru, gerakan pemberdayaan ini sejatinya sedang membangun kesadaran ekonomis yang berkelanjutan di benak masyarakat Kelurahan Doule. Mahasiswa KKA UM Kendari berkeyakinan bahwa kedaulatan ekonomi warga tidak akan pernah lahir dari ketergantungan pada penjualan bahan mentah, tetapi dari keberanian untuk menguasai rantai nilai secara mandiri. Inovasi Sambal Cumi ini disemaikan sebagai pemantik awal untuk menyalakan jiwa kewirausahaan lokal yang tangguh dan berdikari.

Melalui sinergi yang terjalin erat antara civitas akademika UM Kendari dan masyarakat Kelurahan Doule, denyut nadi perekonomian pesisir diharapkan mampu bertransformasi menjadi lebih inklusif dan sejahtera. Siaran pers ini menjadi saksi sejarah bahwasanya pengabdian KKA UM Kendari adalah cermin nyata dari pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan keilmuan. Dari pesisir Bombana, sebuah pencerahan telah dinyalakan bahwa mempertautkan berkah laut, keandalan ilmu pengetahuan, dan kemandirian masyarakat demi melahirkan masa depan yang berdaya saing tinggi.