Qabilisme Merajalela, Jangan Rayakan Kemerdekaan Sambil Menangis

Jakarta, 16 Agustus,2026

Salam Perjuang, Rakyat Jelata, senasib sepenanggungan.

Podcast & Dokumenter
Nalar Juang
Kemana Nalar Muda Hidup, Zaman Terang
Tonton Nalar Juang →

Sebagai bagian dari pemuda, rakyat jelata, dan rakyat pekerja dengan segala segenap hati, sejujurnya mewakili beberapa pemuda di lingkaran Mahasiswa Islam yang menolak praktik ego individualistik, praktek kapitalistik dalam kepentingan umum, dan mungkin juga mewakili sejumlah pemuda, rakyat jelata, rakyat pekerja, buruh, tani, dan nelayan yang senasib sepenanggungan.

Di kesempatan emas ini, melalui goresan kecil ini, kami, rakyat jelata ingin menyampaikan bahwasanya spirit nasionalisme kita menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia kali ini, yaitu kemerdekaan Indonesia yang ke-81 dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, benar-benar mulai berjatuhan. Mulai rontok, mulai tenggelam, mulai kehilangan energi.

Bukan karena kita tidak mencintai bangsa ini.
Bukan karena kita tidak mengerti ajaran Pancasila. Bukan karena kita tidak bisa hidup menderita dalam membela kebenaran. Bukan karena kita tidak mengerti sejarah perjuangan revolusioner bangsa Indonesia. Bukan pula karena kita tidak mengerti nilai-nilai kebajikan. Sesungguhnya bukan itu.

Justru karena kita mencintai bangsa ini, justru karena kita memahami Pancasila, justru karena kita sanggup hidup menderita dalam membela kebenaran, justru karena kita mengerti sejarah perjuangan revolusioner bangsa Indonesia, dan justru karena kita menghayati nilai-nilai kebajikan itulah, kita tidak bisa berpura-pura buta. Kita tidak bisa merayakan kemerdekaan dengan senyum penuh, sementara hati kita menangis menyaksikan kenyataan yang mengkhianati cita-cita kemerdekaan itu sendiri.

Ada luka yang masih menganga, ada api yang menyala, ada kegelisahan yang sampai sekarang belum bisa terpadamkan oleh sekadar upacara bendera yang selalu megah itu, yang kadang-kadang hanyalah seremonial belaka.

Saudara-saudara! Dengarkanlah jeritan hati nurani yang paling dalam rakyat jelata ini!

Sudah sejauh mana kemerdekaan ini benar-benar dirasakan oleh rakyat miskin, anak terlantar, pengemis di kota kota, rakyat jelata di belahan Nusantara ini?

Sudah sejauh mana keadilan dan kedaulatan rakyat pekerja?

Apakah kemerdekaan ini milik rakyat, atau hanya milik segelintir orang yang duduk di singgasana kekuasaan?

Apakah kita rela menjadi bangsa yang merdeka di atas rakyat jelata menderita dimana mana, kehilangan tanah, kehilangan ruang hidup, kehilangan masa depanp, hak-hak yang dirampas karena keserakahan korupsi, kolusi dan nepotisme yang tumbuh subur?

Di mana Trisakti Bung Karno sekarang? Di mana kedaulatan politik, di mana berdikari ekonomi, di mana kepribadian budaya?

Apakah kita akan terus diam menjadi penonton di negeri sendiri, sementara tanah kita dirampas, buruh kita diupah murah, dan rakyat jelata dijadikan budak di tanah kelahirannya?

Untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini diperjuangkan, apakah untuk rakyat atau untuk pemilik modal yang rakus?

Untuk siapa kemerdekaan ini dipertahankan, untuk keadilan atau untuk kepentingan segelintir orang?

Namun, di tengah gemuruh pertanyaan-pertanyaan yang menyala itu, kita tidak lantas kehilangan harapan. Kita masih percaya pada kekuatan doa dan perenungan.

Maka, di tengah segala kegelisahan dan kepahitan itu, dengan penuh kesederhanaan rakyat jelata ini akan merayakan hari besar ini dengan penuh perenungan yang mendalam, menghayati sedalam-dalamnya, berdoa dengan penuh ketundukan kepada Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam. Kita berharap, dengan doa bersama kali ini, di hari bersejarah ini, insya Allah bangsa ini bisa selamat dari cengkeraman neoliberalisme, bisa sembuh dari penyakit kanibalisme yang ganas terhadap bangsanya sendiri, tetapi ciut terhadap bangsa asing.

Kita juga berdoa semoga bangsa yang lahir dari keragaman budaya dan agama ini, lahir dari kekayaan falsafah-falsafah, cerita-cerita kebesaran nenek moyang kita yang hebat-hebat, serta leluhur yang kita yakini masih hidup membersamai jiwa perjuangan kita, tidak hanyut ke dalam praktik-praktik individualistik yang menghalalkan segala cara untuk memecah belah semangat solidaritas; tidak hanyut ke dalam individualisme yang memperdagangkan persatuan dan kesatuan demi kepentingan diri sendiri dan kelompok; serta tidak hanyut ke dalam praktik-praktik Qabilisme, praktik-praktik Fir‘aun, dan praktik-praktik penjajahan modern lainnya.

Namun, doa dan harapan saja tidak cukup. Sebab yang membuat kita loyo, tidak berdaya dan diam seribu bahasa adalah tatkala menyaksikan fenomena ketidakadilan yang begitu terang-terangan di hadapan kita. Tatkala rakyat kecil berjuang seharian hanya untuk sebungkus nasi demi bisa bertahan hidup, sementara segelintir orang menikmati kekayaan negara di atas penderitaan rakyat pekerja. Tatkala buruh dan tani kembali menjadi kuli, menjadi penonton, menjadi budak di tanah sendiri, sementara segelintir orang kaya yang memegang kekuasaan ekonomi-politik, pra oligarki oligarki berdasi itu, berpesta pora di atas keringat rakyat pekerja. Tatkala hukum tumpul ke atas dan runcing ke bawah. Tatkala kita disuruh bersabar atas penderitaan, sementara para penguasa lupa bahwa mereka adalah pelayan rakyat, bukan tuan. Tatkala angka-angka besar yang menggiurkan itu menjadi membosankan untuk dibicarakan, sebab angka-angka besar itu tidak pernah sampai ke dapur rakyat jelata; ia hanya menjadi berhala baru para pemuja kapital, sementara Habil-Habil rakyat kecil semakin kurus di tanah sendiri.

Oleh karena itulah, kita lelah. Bukan karena kita tidak mau berjuang, melainkan karena perjuangan kita sering kali dikhianati. Kita diam bukan karena kita tidak punya suara, melainkan karena suara kita dibungkam, dianggap angin lalu, atau dijawab dengan represi. Kita kehilangan semangat bukan karena kita tidak cinta tanah air, melainkan karena Indonesia yang kita cintai ini semakin hari semakin bertentangan dengan semangat revolusi bangsa Indonesia, perlahan berubah menjadi negeri yang asing bagi rakyatnya sendiri.

Saudara-saudara senasib sepenanggungan, agar kita tidak tersesat dalam kelelahan ini, mari kita ingat kembali akar dari segala kezaliman yang pernah ada, kisah Qabil dan Habil.

Qabil adalah simbol manusia yang dikuasai ego, iri hati, dan keserakahan. Ia tidak rela melihat saudaranya lebih baik, lebih diterima, lebih diberkati. Maka ia memilih membunuh saudaranya sendiri. Itulah Qabilisme, mentalitas yang menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu, meski harus menumpahkan darah saudara sebangsa.

Qabilisme itulah yang hari ini merajalela!

Qabilisme korupsi! Qabilisme perampasan tanah! Qabilisme upah murah! Qabilisme oligarki! Qabilisme yang membunuh Habil-Habil rakyat kecil secara perlahan!

Mereka adalah Qabil-Qabil modern. Mereka duduk di kursi kekuasaan, di balik korporasi, di balik kebijakan. Mereka tidak peduli bahwa rakyat kelaparan, yang penting perut mereka kenyang. Mereka tidak peduli bahwa petani kehilangan tanah, yang penting proyek mereka jalan. Mereka tidak peduli bahwa buruh diupah tidak layak, yang penting laba mereka menumpuk. Mereka membunuh saudaranya sendiri, bukan dengan batu, tetapi dengan kebijakan, dengan sistem, dengan kesewenang-wenangan.

Namun saudara-saudara! Jangan sampai kita tenggelam dalam keputusasaan. Sejarah tidak hanya melahirkan Qabil, tetapi juga Nabi Musa AS.

Jangan lupa, sejarah juga melahirkan Nabi Musa AS. Nabi Musa AS lahir dari kaum tertindas, dari bangsa yang diperbudak oleh Firaun. Firaun adalah simbol tirani, kesombongan, dan penghisapan. Firaun menganggap dirinya tuhan, merasa berkuasa mutlak atas manusia dan alam. Tetapi Musa tidak tinggal diam. Musa berdiri di hadapan Firaun dan berseru: “Lepaskan bangsaku pergi!”

Musa melawan Firaun! Musa melawan tirani! Musa melawan perbudakan! Musa membebaskan rakyatnya dari cengkeraman kekuasaan yang zalim!

Dan hari ini, kita membutuhkan Musa-Musa baru. Bukan Musa yang datang dengan mukjizat, tetapi Musa yang datang dengan keberanian. Musa yang berani berkata tidak pada korupsi. Musa yang berani menolak tunduk pada sistem yang menindas. Musa yang berani memimpin rakyat keluar dari perbudakan kapitalisme dan oligarki.

Musa yang tidak lahir dari istana! Musa lahir dari gubuk-gubuk rakyat!

Musa bukan berasal dari kaum penindas keringat rakyat! Musa berasal dari kaum yang tertindas!

Perjuangan melawan kezaliman juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ingatlah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus justru di tengah masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala-berhala.

Berhala-berhala itu adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, kekuasaan yang zalim, harta yang menindas, nafsu yang membabi buta, dan sistem yang memperbudak manusia. Kaum Quraisy yang kaya raya, para rentenir, para pedagang curang, para pembesar suku yang menindas budak dan perempuan, mereka semua adalah penyembah berhala sejati, meski mulut mereka berteriak mengagungkan patung-patung Berhala itu.

Ali Syari’ati pernah mengingatkan kita, bahwa berhala zaman sekarang tidak lagi berupa patung, melainkan sistem, ideologi, dan kekuasaan yang memperbudak manusia. Berhala kapitalisme! Berhala tahta! Berhala keserakahan! Berhala pasar bebas! Berhala kemewahan! Berhala jabatan! Berhala-berhala itulah yang kini disembah oleh Firaun-Firaun modern dan Qabil-Qabil berdasi. Mereka tidak sujud di depan batu, tetapi mereka sujud di depan fulus, di depan kekuasaan, di depan nafsu.

Maka saudara-saudara, rakyat jelata senasib sepenanggungan!

Perjuangan melawan penindasan adalah perjuangan melawan berhala-berhala modern. Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan tauhid dalam ritual, tetapi tauhid dalam tatanan sosial yang lebih kompleks, tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada penguasa mutlak selain Dia, tidak ada penindasan manusia atas manusia. Inilah tauhid sejati, sebagaimana digelorakan Ali Syari’ati bahwa tauhid yang membebaskan, tauhid yang melawan syirik sosial, tauhid yang menghancurkan segala bentuk thaghut-tiran, penindas, dan penghisap.

Maka kita patut memilih untuk menjadi Muhammad-Muhammad baru yang menghancurkan berhala-berhala itu!

Hancurkan berhala korupsi! Hancurkan berhala oligarki! Hancurkan berhala egoisme! Hancurkan sampai ke akar akarnya!

Saudara-saudara, perlawanan terhadap berhala-berhala modern ini bukanlah hal baru. Bung Karno, sang proklamator, telah menyalakan apinya sejak dulu.

Bung Karno pernah berteriak lantang: “Revolusi belum selesai!” Revolusi kita belum selesai! Revolusi kita belum selesai! Revolusi kita belum selesai!

Bung karno mengajarkan kita tentang Marhaen yaitu rakyat kecil yang melarat, buruh, tani, nelayan yang menjadi tulang punggung bangsa, tetapi justru paling sering diinjak. Beliau mewariskan Trisakti, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Tapi apa yang kita lihat hari ini? Apa yang kita saksikan selama ini?

Kedaulatan politik kita digadai oleh kepentingan asing dan oligarki. Kemandirian ekonomi kita dijual kepada pasar bebas. Kepribadian budaya kita ditukar dengan mental konsumtif dan mental inlander yang suka menjilat asing dan menindas bangsanya sendiri.

Selama alat-alat produksi dikuasai oleh segelintir orang, selama kaum pekerja hanya menjadi alat yang dieksploitasi, maka selama itu pula rakyat pekerja (buruh, tani, nelayan) tetap menderita. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Dan itulah yang terjadi di negeri ini. Kapital tidak mengenal moral, ia hanya mengenal laba. Dan laba itu selalu dibayar dengan darah, keringat, dan air mata rakyat. Kita menyaksikan bagaimana tanah-tanah rakyat dirampas atas nama pembangunan, bagaimana buruh diupah murah atas nama investasi, bagaimana sumber daya alam dikeruk habis atas nama pertumbuhan ekonomi, sementara rakyat di sekitarnya tetap hidup dalam kemiskinan struktural yang amat menyedihkan.

Maka, kita, rakyat jelata, patut bertanya kepada mereka meraka yang ada di panggung kekuasaan itu, untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini? Apakah kemerdekaan hanya milik mereka yang punya modal, punya kuasa, dan punya panggung? Apakah kemerdekaan hanyalah seremoni tahunan, sementara rakyat jelata tetap menjadi kuli di negeri sendiri?

Kita tidak boleh diam lagi!

Kita tidak boleh terus larut dalam kepengecutan. Kita tidak boleh terus diam seribu bahasa, karena diam kita adalah sekutu sunyi bagi ketidakadilan. Bung Karno mengingatkan: “Bangsa yang tidak percaya pada kekuatan dirinya sendiri, tidak akan dapat berdiri tegak. Suatu kaum tidak akan kehilangan apa-apa selain belenggu mereka! Tetapi kita justru sering takut kehilangan belenggu itu, karena belenggu itu telah menjadi zona nyaman.”

Maka, seandainya hari kemerdekaan ini benar-benar menjadi momentum bersejarah, ia harus menjadi momentum untuk membumihanguskan ego individual segelintir orang yang serakah, membumihanguskan kaum Qabil modern, membumihanguskan kaum Firaun berdasi, membumihanguskan kaum penyembah berhala kapitalisme. Mereka adalah kaum oligarki berdasi, para komprador, baik yang duduk di kursi kekuasaan maupun yang bersembunyi di balik korporasi, yang menjadikan negara sebagai sapi perah pribadi.

Mereka adalah pengkhianat amanat rakyat, pewaris mental imperialis yang hanya ingin menguasai, bukan melayani rakyat sepenuh hati.

Ayo, rakyat jelata, Bakar ego Qabil! Bakar mental inlander! Bakar kepengecutan!

Bakar berhala-berhala modern kapitalis neoliberalisme yang menghancurkan solidaritas kita.

Pada saat yang sama, kita harus merobohkan mentalitas penjajah yang masih bercokol di kepala kita, mental merasa lebih unggul, merasa dengan uang bisa menghina rakyat jelata, gemar menindas yang lemah, mengeksploitasi sesama, serta lebih suka menguasai daripada melayani. Penjajah fisik mungkin telah lama pergi, tetapi penjajah dalam bentuk watak, keserakahan, kesewenang-wenangan, diskriminasi, dan hasrat menundukkan, masih berkeliaran di sekitar kita. Kemerdekaan belum utuh bila kita masih menjadi penjajah bagi saudara sebangsa sendiri.

Dan yang paling berat sekarang ini, merobohkan kepengecutan kita sendiri. Kepengecutan untuk bersikap jujur, kepengecutan untuk menolak tunduk pada sistem yang korup, kepengecutan untuk menyuarakan kebenaran, serta kepengecutan untuk memulai perubahan dari diri sendiri.

Jangan takut! Jangan gentar! Jangan menyerah!

Saatnya kita, rakyat jelata, Jadilah Nabi Musa AS yang berdiri di hadapan Firaun!

Jadilah Musa yang berkata, hei Fir’aun, jika engkau tidak mau berhenti menindas rakyat, masih menganggap remeh rakyat jelata, tidak mau kembali ke jalan Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam, maka Lepaskan bangsaku pergi!

Jadilah Musa AS yang membelah lautan ketidakadilan dengan tongkat keberanian!

Jadilah Nabi Muhammad yang menghancurkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah keadilan!

Jadilah Muhammad yang memerdekakan budak-budak dari sistem jahiliyah!

Saudara-saudara, rakyat jelata senasib sepenanggungan.

Rakyat pekerja, buruh, tani, nelayan, guru, pemuda, menunggu realisasi janji kemerdekaan. Kami tidak butuh seremonial yang membosankan, yang kita butuhkan sekarang ini, di momentum bersejarah ini ialah tanah untuk digarap, upah yang adil, pendidikan yang memerdekakan, dan negara yang hadir sebagai pembela, bukan pemungut pajak semata. Bung Karno pernah mengajarkan gotong royong, bukan individualisme kapitalis yang saling memangsa. Hapuskan penghisapan manusia oleh manusia. Nabi Muhammad SAW mengajarkan, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Ali Syari’ati menegaskan juga pernah menegaskan beriman berarti berpihak pada rakyat tertindas, bukan pada penindas.

Maka, jadikan 17 Agustus ini sebagai deklarasi perang terhadap ego oligarki, mental inlander, dan kepengecutan. Bukan perang dengan peluru, melainkan dengan kesadaran sosial yang tinggi, keberanian moral, dan solidaritas rakyat.

Bangun masyarakat tanpa kelas!
Hancurkan berhala! Robohkan tirani! Bebaskan rakyat!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Sekali merdeka, tetap merdeka!
Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Penulis: Ali Aludin Hamzah, Koordinator Nasional Lingkaran Mahasiswa Islam (LMI). Aktif dalam advokasi kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.